BANGBARA.COM - Masyarakat di wilayah pesisir umumnya menggantungkan penghasilan dari hasil laut nan sangat dipengaruhi cuaca dan musim. Ketika kondisi laut tidak bersahabat, pendapatan penduduk pun ikut menurun apalagi bisa terhenti. Situasi tersebut mendorong masyarakat Desa Sawang Laut di Pulau Kundur, Kepulauan Riau, untuk mencari sumber ekonomi pengganti nan tetap memanfaatkan potensi wilayah mereka. Dari lahan pesisir nan sebelumnya tidak dimanfaatkan, golongan masyarakat berjulukan Tuah Bersatu mulai mengembangkan beragam upaya produktif secara bertahap. Inisiatif ini menjadi langkah krusial agar perekonomian penduduk tidak hanya bertumpu pada aktivitas melaut semata, melainkan mempunyai sumber pemasukan lain nan lebih stabil dan berkelanjutan.
Ketua Kelompok Tuah Bersatu, Amran, menjelaskan bahwa pendapat tersebut muncul dari kemauan penduduk untuk mempunyai aktivitas ekonomi tambahan di luar pekerjaan sebagai nelayan. Sejak 2022, golongan mulai merintis budidaya ikan kakap putih dan mulai aktif melangkah pada tahun berikutnya. Seiring perkembangan usaha, penduduk kemudian memperluas aktivitas ke sektor lain seperti hidroponik, produksi terasi, peternakan ayam petelur, hingga rencana pengelolaan bank sampah. Seluruh proses dilakukan secara berjenjang sesuai keahlian golongan dan kesiapan masyarakat setempat. Langkah tersebut tidak hanya menciptakan kesempatan upaya baru, tetapi juga membuka ruang bagi penduduk untuk belajar mengembangkan upaya berbasis potensi lokal nan sebelumnya belum banyak dimanfaatkan.
Dampak ekonomi dari program ini mulai dirasakan masyarakat. Unit peternakan ayam misalnya, bisa menjual sekitar seratus ekor ayam setiap bulan dengan omzet mencapai belasan juta rupiah. Selain itu, upaya hidroponik nan dikelola ibu-ibu desa juga memberikan tambahan pendapatan melalui penjualan sayuran segar seperti pakcoy, selada, dan sawi manis. Meski skalanya belum besar, hasil tersebut dinilai sangat membantu kebutuhan ekonomi keluarga. Tidak hanya dari sisi pendapatan, faedah lain nan dirasakan penduduk adalah meningkatnya keahlian dan pengetahuan masyarakat. Warga nan sebelumnya hanya mempunyai keahlian menangkap ikan sekarang mulai memahami teknik budidaya, pengelolaan usaha, hingga langkah membangun jaringan dengan beragam pihak. Menurut Amran, pengalaman mendapatkan training dan pendampingan menjadi perihal paling berbobot lantaran membuka wawasan baru bagi masyarakat desa.
Perjalanan pengembangan golongan Tuah Bersatu mendapat support melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Timah Tbk nan merupakan bagian dari Holding Industri Pertambangan MIND ID. Pendampingan dilakukan mulai dari pembukaan lahan, penguatan teknis budidaya, hingga pengembangan upaya secara berkelanjutan. Ke depan, golongan berambisi dapat memperoleh support lebih lanjut, terutama dalam pengembangan pakan berdikari untuk budidaya ikan agar biaya operasional dapat ditekan. Bagi masyarakat Sawang Laut, program ini bukan hanya soal support ekonomi, tetapi juga proses pembelajaran nan menumbuhkan rasa percaya diri untuk membangun masa depan bersama. Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan ekosistem ekonomi desa berbasis potensi lokal nan sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Atas komitmen terhadap pengelolaan lingkungan dan akibat sosial di sekitar wilayah operasionalnya, PT Timah Tbk sukses meraih penghargaan PROPER Emas dan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH.
Sumber: VRITIMES
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian alias keseluruhan tulisan
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Editor: Abdul Kholilulloh
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·