Keutamaan Menjaga Shalat Lima Waktu– Keutamaan menjaga shalat lima waktu. Di tengah kesibukan nan semakin padat, banyak orang rela meluangkan waktu berjam-jam untuk bekerja, belajar, alias mengejar beragam urusan dunia. Anehnya, ketika azan berkumandang, tidak sedikit nan justru merasa lima alias sepuluh menit untuk menghadap Allah terasa begitu berat.
Padahal, shalat bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan penopang utama kehidupan seorang mukmin. Ketika shalat mulai ditinggalkan, sesungguhnya bukan hanya tanggungjawab nan terabaikan, tetapi juga hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya perlahan mulai renggang.
Lalu, kenapa Islam memberikan perhatian nan begitu besar terhadap shalat? Pun, kenapa Islam menganjurkan untuk menjaga keistimewaan shalat wajib?
Al-Qur’an menjelaskan bahwa shalat merupakan tanggungjawab nan telah ditetapkan waktunya bagi setiap orang nan beriman. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ ٱلصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا
Artinya; “Sesungguhnya shalat itu adalah tanggungjawab nan telah ditentukan waktunya atas orang-orang nan beriman.” (QS. An-Nisā’ [4]: 103)
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan ibadah nan boleh dikerjakan sesuka hati alias ditunda tanpa alasan. Allah sendiri menetapkan waktu-waktunya sebagai corak endidikan kedisiplinan sekaligus pengingat agar manusia tidak tenggelam dalam urusan dunia.
Lima kali sehari, seorang mukmin dipanggil untuk berakhir sejenak, mengingat Penciptanya, lampau kembali menjalani kehidupan dengan hati nan lebih bersih.
Karena itulah, Allah kembali menegaskan pentingnya menjaga seluruh shalat, terutama dengan penuh kekhusyukan. Firman-Nya:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ٢٣٨
Artinya; “Peliharalah semua salat (fardu) dan salat Wusṭā. Berdirilah lantaran Allah (dalam salat) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah [2]: 238)
Perintah ḥāfiẓū (peliharalah) bukan hanya berarti melaksanakan shalat, tetapi juga menjaga waktunya, syaratnya, rukunnya, kekhusyukannya, serta menjadikannya sebagai prioritas dalam kehidupan. Seorang mukmin tidak sekadar “sempat shalat”, melainkan berupaya agar hidupnya tersusun mengikuti waktu-waktu shalat.
Rasulullah saw. Bahkan menempatkan shalat sebagai ukuran pertama dalam penilaian kebaikan seorang hamba pada Hari Kiamat. Beliau bersabda:
أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ
Artinya; “Perkara pertama nan bakal dihisab dari seorang hamba pada hari hariakhir adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Namun jika shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Ath-Ṭabarānī ).
Dalam riwayat lain Rasulullah saw. Bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
Artinya; “Sesungguhnya kebaikan pertama nan bakal dihisab pada hari hariakhir adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, sungguh dia beruntung dan selamat. Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka dia betul-betul merugi dan celaka.” (HR. At-Tirmidzi).
Dua sabda tersebut menunjukkan bahwa shalat bukan hanya salah satu kebaikan di antara sekian banyak kebaikan saleh. Ia adalah fondasi nan menentukan kualitas amal-amal lainnya. Karena itu, para ustadz sering mengibaratkan shalat sebagai tiang sebuah bangunan. Selama tiangnya kokoh, gedung bakal tetap berdiri. Namun andaikan tiangnya roboh, bagian-bagian lain pun susah dipertahankan.
Oleh karena itu, menjaga shalat tidak semata-mata berfaedah memenuhi tanggungjawab agama. Ia merupakan ikhtiar menjaga iman, membangun kedisiplinan, membersihkan hati, sekaligus memperkokoh hubungan seorang hamba dengan Allah Swt.
Tidak mengherankan jika Al-Qur’an berulang kali memerintahkan orang-orang beragama untuk menegakkan shalat, karena dari sanalah lahir kekuatan spiritual nan membimbing manusia dalam menjalani kehidupan.
Maka, sudah selayaknya shalat ditempatkan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas. Kesibukan tidak boleh menjadi argumen untuk meninggalkannya, lantaran justru melalui shalat seorang mukmin memperoleh ketenangan, keberkahan, dan pertolongan Allah.
Barang siapa menjaga shalatnya, dia sedang menjaga agamanya. Sebaliknya, ketika shalat mulai diabaikan, sesungguhnya dia sedang membiarkan fondasi kehidupannya rentan sedikit demi sedikit.
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·