Rahasia Shalat Tahajud: Mengapa Allah Sangat Menganjurkannya?– Rahasia shalat tahajud. Malam selalu menyimpan dua wajah. Bagi sebagian orang, malam adalah waktu terbaik untuk mengistirahatkan tubuh setelah seharian bergulat dengan pekerjaan. Namun, bagi sebagian nan lain, malam justru menjadi saat paling berbobot untuk menyendiri berbareng Allah.
Ketika bunyi manusia mulai menghilang dan hiruk-pikuk bumi mereda, seorang mukmin bangkit dari pembaringannya. Ia mengambil air wudu, mengusap kantuk nan tetap tersisa, lampau berdiri menghadap Rabb nan tidak pernah tidur.
Di situlah letak keistimewaan shalat tahajud. Ia bukan ibadah nan diwajibkan, tetapi justru lantaran tidak diwajibkan, nilainya menjadi begitu istimewa. Tahajud adalah ukuran kerinduan seorang hamba kepada Tuhannya.
Siapa pun bisa beragama ketika semua orang melakukannya. Akan tetapi, tidak semua orang sanggup bangun ketika manusia lain tetap terlelap dalam tidurnya.
Karena itulah, Allah mensyariatkan shalat tahajud bukan untuk mengurangi waktu rehat manusia. Allah tidak memerlukan letihnya hamba-Nya.
Sebaliknya, Allah hendak menghadiahkan sebuah kesempatan nan tidak diberikan pada setiap waktu, ialah kesempatan untuk bermunajat dalam suasana nan paling hening, paling jujur, dan paling dekat dengan-Nya.
Allah Swt. berfirman,
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
Artinya; “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah Anda sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat nan terpuji.” (QS. al-Isrā’ [17]: 79).
Ayat ini mengandung pesan nan sangat dalam. Allah tidak sekadar memerintahkan tahajud, tetapi juga memperlihatkan rahasia shalat tahajud, ialah mengangkat derajat hamba menuju maqāman maḥmūdā, kedudukan nan terpuji.
Para ustadz memang memberikan penjelasan nan beragam mengenai makna maqām maḥmūd, tetapi semuanya bermuara pada satu hal: Allah memuliakan orang-orang nan menjadikan malam sebagai waktu untuk mendekat kepada-Nya.
Persoalannya, kenapa tahajud kudu dilakukan pada malam hari?
Jawabannya sederhana. Malam adalah waktu ketika manusia betul-betul diuji keikhlasannya. Shalat lima waktu tetap memungkinkan dikerjakan berbareng orang lain.
Puasa tetap dapat diketahui family alias sahabat. Akan tetapi, tahajud nyaris tidak diketahui siapa pun selain pelakunya dan Allah. Di sinilah nilai keikhlasan menemukan bentuknya nan paling nyata.
Maka tidak mengherankan jika Rasulullah saw. menyebut kemuliaan seorang mukmin justru terletak pada shalat malamnya. Beliau bersabda,
وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ
Artinya; “Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin terletak pada shalat malamnya.”
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan dalam Islam tidak selalu diukur dari kekayaan, jabatan, alias kedudukan sosial. Kemuliaan sejati justru lahir dari hubungan seorang hamba dengan Tuhannya. Ketika banyak orang mencari kehormatan di hadapan manusia, Islam mengajarkan bahwa kehormatan itu justru dibangun ketika seseorang berdiri sendirian di hadapan Allah.
Karena itu, tahajud bukan sekadar rangkaian aktivitas shalat. Ia adalah latihan untuk menundukkan ego. Betapa beratnya meninggalkan kasur nan hangat ketika udara malam menusuk tubuh. Betapa sulitnya membuka mata nan tetap dipenuhi kantuk.
Namun justru di situlah letak nilai ibadah ini. Allah tidak memandang seberapa lama seseorang berdiri dalam shalatnya, melainkan memandang kesungguhan hatinya ketika memilih Allah di atas kenyamanan dirinya sendiri.
Tidak sedikit orang nan mengeluhkan sulitnya bangun malam. Alarm dipasang berkali-kali, tetapi jemari justru lebih sigap mematikannya daripada tubuh nan beranjak dari tempat tidur. Fenomena ini menunjukkan bahwa musuh terbesar tahajud bukanlah dinginnya malam, melainkan rasa nyaman nan terlalu dicintai. Sebab, setiap ibadah besar memang selalu meminta pengorbanan nan tidak kecil.
Namun, Allah tidak pernah membiarkan pengorbanan itu tanpa balasan. Bahkan Rasulullah saw. Memberikan berita ceria kepada orang-orang nan menghidupkan malamnya dengan ibadah. Dari Abdullah bin Salam r.a., beliau bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
Artinya; “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi, dan shalatlah pada malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian bakal masuk surga dengan penuh keselamatan.”
Hadis ini menarik. Rasulullah tidak hanya menyebut tahajud sebagai ibadah individual, tetapi menempatkannya sejajar dengan kepedulian sosial, seperti memberi makan dan menyambung silaturahmi. Seolah-olah dia mau menegaskan bahwa kesalehan sejati selalu mempunyai dua wajah: dekat kepada Allah sekaligus dekat kepada manusia.
10 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·