Khutbah Jumat: Menyiapkan Bekal Sebelum Kematian Menjemput

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
 Menyiapkan Bekal Sebelum Kematian MenjemputKhutbah Jumat: Menyiapkan Bekal Sebelum Kematian Menjemput

– Kematian merupakan satu kepastian nan tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Ia tidak mengenal usia, tidak menunggu kesiapan, dan tidak dapat ditunda ataupun dimajukan. Nah berikut tentang khutbah Jumat Menyiapkan Bekal Sebelum Kematian Menjemput.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْأَزْمَانَ مَوَاسِمَ لِلطَّاعَاتِ، وَفَضَّلَ بَعْضَ الشُّهُوْرِ عَلَى بَعْضٍ بِالْحِكَمِ وَالْبَرَكَاتِ, وَجَعَلَ شَهْرَ شَعْبَانَ شَهْرَ الصَّلَاةِ وَالْإِعْتِيَادِ. وَأَشْهَدُ أنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،  فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ.

Hadirin pendengar khutbah Jumat nan dimuliakan Allah

Kematian adalah satu kepastian nan tidak pernah bisa ditawar oleh siapa pun. Ia tidak menunggu kesiapan manusia, tidak pula memberi tanda nan selalu mudah dipahami. Ia datang pada waktunya, tanpa dapat dimajukan dan tanpa dapat ditunda.

Justru lantaran itulah, Islam menjadikan kesadaran bakal kematian sebagai fondasi krusial dalam membangun arah hidup seorang mukmin.

Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ʿUlūmiddīn mengatakan bahwa kematian adalah sesuatu nan paling dekat dengan manusia, namun waktu kedatangannya tidak diketahui oleh siapa pun.

Maka, wahai saudara-saudaraku, jika sesuatu itu pasti datang tetapi tidak kita ketahui kapan datangnya, bukankah nan paling bijak adalah selalu bersiap menghadapinya?

Bukan kesiapan jasmani semata, tetapi kesiapan hati melalui taubat nan tulus dan kebaikan nan terus dijaga tanpa henti. Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Artinya: “Setiap nan bernyawa bakal merasakan mati. Kami bakal menguji Anda dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami Anda dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35).

Hadirin pendengar khutbah Jumat nan dimuliakan Allah

Ayat ini tidak hanya berbincang tentang kematian, tetapi tentang perjalanan hidup manusia nan seluruhnya adalah ujian. Kematian bukan akhir nan terpisah dari kehidupan, melainkan pintu kembali kepada Allah SWT.

Dan ketika kita memahami bahwa hidup ini adalah perjalanan menuju akhir, maka tidak ada lagi ruang untuk lalai dan terlena. Dan lebih dari itu, Allah menyatakan bahwa setiap umat mempunyai pemisah waktu:

Allah SWT juga berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat pula meminta percepatan.” (QS. Al-A’raf: 34).

Hadirin pendengar khutbah Jumat nan dimuliakan Allah

Imam Al-Mawardi dalam Tafsir al-Mawardi an-Nukat wal ‘Uyun (Jilid II, laman 221) menjelaskan bahwa ajal adalah ketetapan Allah nan tidak dapat diubah, baik dimajukan maupun ditunda. Penjelasan ini memperkuat pemahaman bahwa kehidupan manusia melangkah di atas pemisah waktu nan telah ditentukan secara mutlak.

Lebih jauh, Al-Mawardi menegaskan bahwa ketetapan ini tidak tunduk pada kehendak manusia, doa, alias upaya apa pun. Ketika waktu itu tiba, dia datang dengan kepastian nan tidak dapat ditolak. Dari sini tampak bahwa manusia tidak mempunyai kendali atas pemisah akhirnya, melainkan hanya atas gimana dia mengisi rentang waktu sebelum akhir itu tiba.

Apabila demikian adanya, maka perhatian manusia semestinya tidak tertuju pada upaya menghindari kematian, tetapi pada gimana memaknai waktu nan tersisa. Sebab setiap detik nan berlalu sesungguhnya adalah bagian dari perjalanan nan semakin mendekatkan manusia pada kepastian tersebut.

Hadirin pendengar khutbah Jumat nan dimuliakan Allah

Makna ini diperkuat oleh penjelasan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Al-Kabir ketika menafsirkan QS. Al-A’raf: 34. Ia menjelaskan bahwa “ajal” adalah waktu nan telah ditetapkan oleh Allah bagi berakhirnya kehidupan, baik secara perseorangan maupun kolektif. Namun dalam konteks ayat ini, beliau menekankan makna kolektif lantaran penggunaan kata “umat”.

Dengan demikian, kematian bukan hanya pengalaman individual, tetapi juga bagian dari sunnatullah nan bertindak bagi seluruh umat manusia tanpa pengecualian. Tidak ada satu pun nan dapat mempercepat alias menundanya, sehingga kesadaran ini semestinya melahirkan sikap hidup nan lebih serius dan terarah.

Hadirin pendengar khutbah Jumat nan dimuliakan Allah

Kesadaran tentang keterbatasan waktu tersebut kemudian diarahkan oleh para ustadz kepada dimensi kebaikan dan perbaikan diri. Imam Al-Qurthubi dalam At-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah menukil perkataan Al-Daqqaq:

قَالَ الدَّقَّاقُ: مَنْ أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِ الْمَوْتِ أُكْرِمَ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: تَعْجِيلُ التَّوْبَةِ، وَقَنَاعَةُ الْقَلْبِ، وَنَشَاطُ الْعِبَادَةِ، وَمَنْ نَسِيَ الْمَوْتَ عُوقِبَ بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: تَسْوِيفُ التَّوْبَةِ، وَتَرْكُ الرِّضَا بِالْكَفَافِ، وَالتَّكَاسُلُ فِي الْعِبَادَةِ.

Artinya: siapa nan banyak mengingat kematian bakal dimuliakan dengan percepatan taubat, ketenangan hati, dan semangat beribadah. Sebaliknya, siapa nan melupakannya bakal terjatuh pada penundaan taubat, ketidakpuasan hati, dan kemalasan dalam ibadah.

Dari sini tampak bahwa kesadaran bakal kematian tidak berakhir pada aspek pengetahuan, tetapi berpengaruh langsung pada kualitas spiritual seseorang. Semakin kuat ingatan seseorang terhadap kematian, semakin terarah pula hidupnya dalam ketaatan. Semakin seseorang mengingat kematian, semakin lurus pula jalannya menuju Allah.

Hadirin pendengar khutbah Jumat nan dimuliakan Allah

Hal ini kemudian ditegaskan lebih lanjut oleh Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin mengenai konsep taubat. Ia berbicara bahwa taubat kudu mencakup penyesalan, penghentian dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Jika berangkaian dengan kewenangan manusia, maka kudu disertai pengembalian kewenangan alias permintaan maaf.

Hadirin pendengar khutbah Jumat nan dimuliakan Allah

Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang berapa lama kita singgah di dunia, tetapi tentang gimana kita pulang kepada Allah. Setiap dari kita sedang melangkah menuju satu titik nan pasti, meski tidak diketahui kapan sampainya. Dan di antara ketidakpastian waktu itu, Allah tetap memberi kita sesuatu nan sangat berharga: kesempatan untuk memperbaiki diri.

Maka sebelum waktu itu betul-betul datang, marilah kita isi sisa usia ini dengan taubat nan tulus, kebaikan nan ikhlas, dan hati nan selalu terhubung kepada-Nya.

Sebab ketika ajal telah tiba, tidak ada lagi penyesalan nan dapat mengubah apa pun, selain rahmat Allah nan kita harapkan dari bekal nan telah kita siapkan.


بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

   الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى  فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

 عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah