Badan Perfilman Indonesia (BPI) berbareng Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sukses menjalankan delegasi strategis di Cannes Film Market and Film Festival 2026, nan berjalan pada 12–20 Mei 2026 di Cannes, Prancis. Kehadiran tahun ini mencatat sejumlah pencapaian penting, mulai dari pertemuan bilateral dengan lembaga movie internasional, pemutaran perdana empat movie pendek karya sineas muda Indonesia, hingga presentasi Dana Indonesiaraya di hadapan 19 lembaga pendanaan dari beragam negara.
Ketua Umum BPI, Fauzan Zidni, menegaskan bahwa kehadiran ini membawa makna nan lebih dalam dari sekadar representasi. “Kehadiran ini adalah konfirmasi bahwa karya anak bangsa telah melampaui pemisah geografis dan berbincang dalam bahasa sinema nan universal. Cannes adalah ruang pertemuan antara karya terbaik dan kesempatan pasar global. Ke depan, tugas kami adalah memfasilitasi kerjasama dan koproduksi lintas negara agar karya Indonesia tidak hanya datang sesekali, tetapi menjadi bagian tetap dari panggung global,” ujarnya.
Momentum ini datang di tengah pertumbuhan industri movie nasional nan signifikan. Film nasional sekarang menguasai 67 persen pangsa pasar bioskop Indonesia, dengan total penonton mencapai 80,27 juta pada 2025, naik lima kali lipat dibanding satu dasawarsa lalu. Indonesia juga tercatat sebagai salah satu dari sedikit negara nan nomor penonton bioskopnya sukses tumbuh pasca pandemi.
Selama penyelenggaraan festival, delegasi BPI dan Kementerian Kebudayaan RI menggelar serangkaian pertemuan strategis. BPI melakukan pertemuan dengan Presiden CNC Prancis, Gaetan Bruel, untuk memastikan rencana kerja sama nan sudah dirintis berbareng terlaksana di tahun ini. BPI juga mendampingi Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dalam pertemuan berbareng Saudi Film Commission, membuka kesempatan kerjasama lintas negara. BPI turut berjumpa langsung dengan Direktur Marché du Film untuk mematangkan rencana partisipasi Indonesia di tahun 2027 dan 2028.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyebut kerjasama ini sebagai bagian dari komitmen jangka panjang pemerintah. “Kami berambisi BPI bakal memperkuat ekosistem movie Indonesia, mempromosikan tata kelola nan transparan, dan membuka kesempatan nan lebih luas bagi talenta imajinatif di seluruh Indonesia. Program Next Step Studio bukan hanya membuka akses ke jaringan industri global, tetapi juga memperkuat diplomasi budaya antara Indonesia dan Prancis, sejalan dengan semangat Deklarasi Borobudur,” katanya.
Puncak diplomasi budaya delegasi tahun ini ditandai dengan pemutaran perdana empat movie pendek karya sineas muda Indonesia dalam program Next Step Studio nan merupakan bagian dari seksi di La Semaine de la Critique (Critics’ Week) jenis ke-65. Film-film tersebut merupakan hasil kerjasama lintas negara melalui program Next Step Studio Indonesia, nan mempertemukan sutradara Indonesia dengan rekan dari area Asia Tenggara: Reza Rahadian berbareng sutradara Filipina Sam Manacsa dalam Annisa; Khozy Rizal berbareng sutradara Singapura Lam Li Shuen dalam Mothers Are Mothering; Reza Fahriyansyah berbareng sutradara Malaysia Ananth Subramaniam dalam Holy Crowd; dan Shelby Kho berbareng sutradara Myanmar Sein Lyan Tun dalam Original Wound.

Di sisi pendanaan dan jaringan industri, Ketua Umum BPI mempresentasikan Dana Indonesiaraya, skema matching fund Kementerian Kebudayaan untuk tahap development, produksi, dan pascaproduksi, dalam forum Spotlight on Asia nan dihadiri 19 lembaga pendanaan dari beragam negara. Delegasi juga mengikuti workshop pengedaran dan pendanaan movie berbareng Europa Distribution, AFAN, CAACI, dan EFAD nan dihadiri 40 peserta dari 35 negara. Ketua Umum BPI turut terpilih sebagai salah satu dari 5 produser APROFI dalam sesi Producers on the Spotlight nan diselenggarakan Marché du Film.
Di level multilateral, BPI berbareng Kementerian Kebudayaan RI datang dalam General Assembly Asian Film Alliance Network (AFAN), duduk satu meja berbareng KOFIC, FDCP, CNC, EFAD, dan Thailand Ministry of Culture. BPI juga menghadiri Samasama Lab Pitching Project, program kerjasama Indonesia dan Belanda nan menjadi tindak lanjut nyata dari MoU ko-produksi nan ditandatangani di JAFF 2024, serta pertemuan jejaring pagelaran internasional yang
diselenggarakan Busan International Film Festival berbareng kepala Cannes, Tokyo, dan Singapore International Film Festival.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·