– Bagaimana norma jual beli buket duit dalam Islam? Buket merupakan sebuah karangan nan biasanya diberikan sebagai bingkisan alias bingkisan wisuda, ulang tahun, pernikahan, alias seremoni lainnya kepada teman, saudara, alias orang tersayang lainnya. Buket sendiri mempunyai beraneka macam dan bentuk, ada buket bunga, buket coklat, buket buah, buket boneka, dan buket uang.
Buket duit merupakan kumpulan duit nan dibungkus dengan plastik cerah dan disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan bingkisan nan elok dan meningkatkan daya tarik tersendiri bagi para konsumen.
Sebagian konsumen ada nan memilih proses pemesanan dan nominal duit tertentu dengan nilai nan disepakati oleh pihak pengrajin dan pihak konsumen. Lantas, bagaimanakah norma jual beli buket duit dalam Islam?
Dalam literatur kitab fikih, dijumpai beberapa keterangan mengenai norma jual beli buket duit dalam islam. Pada dasarnya, kegunaan duit nan beredar di negara ini adalah sebagai perangkat transaksi nan dihukumi sah oleh semua ustadz baik dari kalangan salaf maupun ustadz kontemporer.
Sebagaimana dalam kitab Khasiyah At- Turmusy, juz 4 laman 29 berikut;
واختلف المتأخرون فى الورقة المعروف بالنوط فعند الشيخ سالم بن سمير والحبيب عبد الله بن سميط أنها من قبيل الديون نظراإلى ما تضمنته الورقة المذكورة من النقود المتعامل بها وعند الشيخ محمد الأنبابى والحبيب عبد الله بن أبى بكر أنها كالفلرس المضروبة والتعامل بها صحيح عند الكل
Artinya : “Ulama kontemporer berbeda pendapat mengenai duit nan dikenal dengan istilah naut, menurut Syekh Salim bin Samir dan Habib Abdullah bin Samit, itu termasuk kategori duyun lantaran memandang terhadap kandungan duit nan disebutkan digunakan sebagai perangkat transaksi. Menurut Syekh Muhammad al-Anbabi dan Habib Abdullah bin Abi Bakar, itu seumpama duit receh nan dicetak, dan melakukan transaksi dengan duit itu dihukumi sah menurut semua orang.”
Berdasarkan keterangan diatas, kegunaan duit nan beredar di negara ini adalah sebagai perangkat transaksi nan dihukumi sah oleh semua ulama. Namun, seseorang seseorang diperbolehkan membeli buket nan berisi duit lantaran berfaedah dan mempunyai nilai.
Selain itu, untuk biaya tambahan nan ada dalam pembelian buket ditujukan kepada biaya plastik cerah dan peralatan lainnya nan disusun sedemikian rupa sebagai salah satu karya seni cipta alias prakarya nan dibuat penjual.
- Advertisement -
Sebagaimana dalam lanjutan keterangan kitab Khasiyah At- Turmusy, juz 4 laman 29 berikut,
فان بيعت الاوراق بمثلها متماثلا او متفاضلا كان من قبيل الدين وهو باطل واذا قصدت المعاملة بأعيانها كانت كالفلوس المضروبة فيصح البيع بها وبيع بعضها ببعض لانها منتفع بها وذات قيمة كالنحاس المضروب وتصير عرض تجارة بنيتها
Artinya “Jika duit itu dijual dengan sejenisnya, baik sama maupun berbeda, maka perihal itu seperti hutang dan tidak sah. Jika jual beli itu ditujukan kepada kertas nan dijadikan duit seperti duit receh nan dicetak, maka hukumnya sah untuk menjual keseluruhan dan sebagiannya. Karena berfaedah dan mempunyai nilai seperti tembaga nan dicetak dan menjadi peralatan dagangan dari suatu perdagangan nan dimaksudkan.”
Berdasarkan keterangan diatas dapat diketahui bahwa seseorang diperbolehkan membeli buket nan berisi duit lantaran berfaedah dan mempunyai nilai. Selain itu, untuk biaya tambahan nan ada dalam pembelian buket ditujukan kepada biaya plastik cerah dan peralatan lainnya nan disusun sedemikian rupa sebagai salah satu karya seni cipta alias prakarya nan dibuat penjual.
Demikian penjelasan mengenai norma jual beli buket duit dalam Islam. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam. [Baca juga: Apa Hukum Jual Beli Anjing?]
2 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·