Quraish Shihab: Kata Koruptor Terlalu Halus, Koruptor Itu Pencuri— Iman dan percaya mempunyai keterikatan. Percaya dalam artian sederhana adalah pembenaran hati atas apa nan didengar oleh telinga. Di sisi lain, iman—biasanya digunakan dalam bahasa agama—, pembenaran hati atas pelbagai perihal nan disampaikan oleh utusan Tuhan.
Profesor Quraish Shihab dalam buku Islam nan Saya Anut; Dasar-dasar Ajaran Islam menunjukkan dalam kehidupan manusia ada paradoks. Meskipun manusia menganggap dirinya rasional, terkadang di sisi lain, manusia makhluk nan irasional.
Iman terkadang tak kudu disertai rasionalitas. Terlebih pembenaran berasas panca indra. Banyak perihal nan dibenarkan manusia dalam hati, padahal dia belum tahu prinsip alias tidak bisa melihat, meraba sesuatu tersebut. Misalnya, obat nan diberikan dokter.
Pelbagai orang percaya resep obat nan diberikan master tersebut dapat menyembuhkannya. Pasalnya, orang tersebut percaya pada master tersebut bakal bisa menyembuhkan penyakitnya itu. Manusia juga terkadang percaya pada air nan bening itu mengandung kuman dan virus, meskipun dia tak bisa melihat, meraba, dan menciumnya.
Fenomena ini sendiri menunjukkan bahwa potensi ketaatan sudah ada dalam diri manusia sejak dia lahir. Kenyataan ini pula bahwa manusia mengenal nan disebut denganiman/percaya. Bukankah manusia yan terlahir dalam keadaan buta, percaya bakal matahari, meskipun dia belum melihatnya apalagi tidak mengetahui hakikatnya?
Iman kata Quraish Shihab adalah sesuatu nan sangat agung. Dampaknya pun luar biasa besar bagi manusia, sehingga tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Iman menyangkut sesuatu hal, bukan hasil penalaran logika alias analisa filsafat, apalagi ketetapan norma dari penguasa.
Iman adalah relasi lubuk jiwa terdalam manusia secara individual dengan Dia nan Maha Kuasa. Betapa pun manusia itu dipaksa, disiksa, diancam, dengan pelbagai argumen dan tindakan, itu bakal kandas jika itu sudah tertanam mantap di dalam jiwa.
Itulah iman. Sekali lagi, substansi iman, terutama dalam tahap awal, selalu diliputi pelbagai pertanyaan dan tanda tanya. Keadaan orang beragama ketika itu, bak sedang mendayung dalam lautan besar nan sedang di landa badai. Nun jauh di sana nan terlihat olehnya adalah pulau harapan, tetapi apakah angin besar itu tidak bakal menelannya? Apakah dia bakal terus mendayung?
Dalam keadaan demikian seseorang menjadi ragu. Pada satu sisi, dia mau mencapai pulau kebahagiaan, tetapi pada saat nan berbarengan gelombang jiwanya sedang dihantam oleh gelombang ombak nan besar.
Demikianlah ombak pada tahap pertama. Memang ketaatan itu bak rasa cinta. Pecinta, terlebih dalam tahap pertama, selalu diliputi pelbagai pertanyaan mengenai kekasihnya. Ragu dalam tahap awal. Benarkah dia mencintainya alias benarkah kekasihnya mencintainya?
Setelah mengenal prinsip iman, tidak jarang memang ada aliran kepercayaan nan tak dipahami oleh pemeluknya. Terlebih mengenai sesuatuyan berangkaian dengan alam metafisika. Tetapi lantaran kita percaya pada utusan Tuhan nan menyampaikan risalah-Nya, maka kita mempercayai pelbagai perihal nan mereka sampaikan kendati logika dan panca indra manusia tak mencapainya.
Beriman dalam tahap awal itu pasti bakal dibalur dengan tanda tanya. Toh, para Nabipun mengalami itu. Misalnya Nabi Ibrahim. Dalam periode hidupnya di dalami tanda tanya. Allah merekam itu dalam al-Qur’an Q.S al-Baqarah ayat 260;
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَىٰ ۖ قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي ۖ قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا ۚ وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya; Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku gimana Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”
Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, bakal tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lampau cincanglah semuanya olehmu.
(Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa Nabi Ibrahim pun sempat ragu dalam perjalanan hidupnya menggapai keimanan. Itu terjadi dalam tahap awal hidupnya. Dan keagamaan itu itu bisa meningkat, terus meningkat, dan akhirnya sempurna. Sekaligus, ketaatan juga dapat berkurang. Laiknya kepercayaan; kadang ketaatan kuat, kemudianlagi berkurang.
Penting juga dicatat, ketaatan setiap orang itu berbeda. Bisa jadi dua orang sahabat mengaku beriman, tetapi kadarnya belum tentu sama. Kyai, ustadz dan orientalis, mempunyai pengetahuan tentang Islam, tetapi kadar keimananya berbeda dengan orang kebanyakan.
Untuk itu dalam konteks iman, logika saja tidak cukup. Memang jika pembenaran hati, didukung pembenaran akal, maka ketaatan bakal mantap. Tetapiitu sekaligus membuktikan ketaatan berbeda dengan pengetahuan pengetahuan. Misalnya Anda bisa tahu sesuatu, tetapi Anda bisa saja tidak meyakininya. Dan dapat juga percaya, tapi tidak mengetahuinya.
(Baca: Apa Arti Beriman Kepada Allah? Ini Kata Syekh Nawawi al-Bantani)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·