Gus Ulil Bahas Adam dan Homo Sapiens, Ini Perspektif Al-Qur’an yang Menarik

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Gus Ulil Bahas Adam dan Homo Sapiens, Ini Perspektif Al-Qur'an nan MenarikGus Ulil Bahas Adam dan Homo Sapiens, Ini Perspektif Al-Qur'an nan Menarik

– Sudah mafhum bahwa dalam diskursus keagamaan kontemporer, sering kali terjadi ketegangan antara narasi wahyu dan temuan sains. Salah satu perdebatan nan paling menarik namun sensitif adalah mengenai sosok Nabi Adam as. Apakah beliau adalah sosok historis tunggal, ataukah Adam adalah simbol dari sebuah fase perkembangan manusia, ialah munculnya Homo sapiens nan mempunyai kesadaran ruhani?

Dalam kajian kitab “Jawahirul Qur’an” bagian ke-26, kita diajak oleh Gus Ulil Abshar Abdalla untuk melakukan pembacaan nan melampaui tekstualisme sempit. Melalui ayat-ayat nan menegaskan pembuatan langit, bumi, dan proses pembuatan manusia, Gus Ulil membuka pintu obrolan mengenai gimana kita semestinya memandang asal-usul kita tanpa kudu mengabaikan logika kritis nan dianugerahkan Tuhan.

Epistemologi Penciptaan dan Narasi Semesta

Ayat-ayat nan menjadi konsentrasi dalam kajian ini, khususnya nan berbincang tentang “Dialah nan menciptakan langit dan bumi dengan benar,” merupakan titik tolak teologis nan sangat fundamental. Dalam kacamata “Jawahirul Qur’an”, pembuatan bukan sekadar peristiwa “sekali jadi” nan statis, melainkan sebuah proses nan berkepanjangan dan terukur.

Ketika Al-Qur’an menyebut “Dialah nan menciptakan Anda dari satu jiwa,” muncul pertanyaan teologis nan krusial: Apakah “satu jiwa” (nafs wahidah) ini kudu dipahami secara biologis-individual, alias secara antropologis-kolektif? Gus Ulil, dengan kepintaran hermeneutiknya, sering menekankan bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab teks sains, melainkan hudan (petunjuk).

Oleh lantaran itu, jika sains menunjukkan bukti-bukti perkembangan alias transisi biologis manusia, perihal tersebut tidak serta-merta menggugurkan status Adam sebagai “manusia pertama” dalam pengertian teologis, ialah manusia pertama nan “ditiupkan ruh” dan diberi kesadaran bakal keberadaan Tuhan.

Jika kita menafsirkan Adam sebagai simbol bagi Homo sapiens, maka “kejatuhan” alias “keberadaan di bumi” adalah metafora bagi momen ketika manusia purba mulai mempunyai kesadaran moral (akhlak), rasa malu, dan kapabilitas untuk mengenal Tuhan. Ini adalah lompatan besar dari sekadar makhluk biologis menuju makhluk spiritual.

Perjalanan Intelektual Nabi Ibrahim

Kajian ini juga menyoroti kisah Nabi Ibrahim as. nan mengawasi bintang, bulan, dan matahari. Kisah ini adalah mahakarya pedagogi dalam Al-Qur’an. Ibrahim tidak menemukan Tuhan dengan langkah “diberitahu” oleh otoritas tradisi semata, melainkan melalui observasi dan refleksi kritis.

Gus Ulil menekankan bahwa Ibrahim menunjukkan kepada kita sebuah metode inkuir (pencarian). Bintang, bulan, dan mentari adalah simbol-simbol otoritas alias kekuatan nan sering disembah manusia di masa lampau (bahkan di masa kini, simbol-simbol tersebut bisa berubah bentuk menjadi kekuasaan politik, harta, alias ideologi).

Ketika Ibrahim berkata, “Aku tidak menyukai nan terbenam,” beliau sedang mengajarkan kepada kita bahwa apa pun nan sifatnya fana, apa pun nan muncul dan tenggelam, tidak layak dijadikan Tuhan.

Di sinilah relevansi hubungan antara “Adam” dan “Ibrahim”. Jika Adam adalah titik awal manusia menyadari eksistensi Pencipta, maka Ibrahim adalah model gimana manusia menyempurnakan kesadaran tersebut melalui penolakan terhadap berhala, baik berhala bentuk maupun berhala intelektual.

Menembus Batas Materialisme: Pembelah Bulir Padi

Ayat-ayat nan berbincang tentang Allah sebagai “Pembelah bulir padi dan biji kurma” membawa kita pada pemahaman tentang Al-Khaliq nan terus bekerja. Tuhan tidak berakhir setelah menciptakan semesta; Dia terus “membelah” kehidupan dari kematian.

Dalam konteks sains modern, ini selaras dengan norma termodinamika alias proses biogenesis. Namun, bagi orang beriman, proses-proses ini hanyalah “pakaian” dari tangan Tuhan nan halus.

Gus Ulil membujuk kita untuk tidak menjadi “buta” di tengah bumi nan penuh tanda. Dengan kata lain, jika kita terjebak dalam materialisme, kita bakal memandang biji kurma hanya sebagai nutrisi. Namun, jika kita mempunyai mata spiritual, kita bakal memandang di sana ada “tanda-tanda bagi orang nan mengerti.”

Inilah inti dari “Jawahirul Qur’an”: keahlian untuk memandang nan gaib di kembali nan nyata. Ketika kita bertanya apakah Adam adalah Homo sapiens, kita sebenarnya sedang mencoba menghubungkan narasi asal-usul biologis kita dengan narasi spiritual kita. Keduanya tidak perlu saling menegasikan. Sains menjelaskan bagaimana (mekanisme) tubuh kita terbentuk, sementara wahyu menjelaskan mengapa (tujuan) kita diberikan ruh dan logika budi.

Kritik atas Antropomorfisme

Salah satu bagian terpenting dari bagian ini adalah penegasan bahwa Tuhan tidak mempunyai pasangan dan tidak mempunyai anak. Gus Ulil sering mengulas ini sebagai kritik keras terhadap kecenderungan manusia untuk “memanusiakan” Tuhan.

Sering kali, manusia mau Tuhan bersikap seperti “ayah nan memanjakan” alias “raja nan membalas dendam,” sesuai dengan kemauan ego kita sendiri. Namun, Al-Qur’an menegaskan, “Tidak ada penglihatan nan dapat melihat-Nya, tetapi Dia memandang segala penglihatan.”

Tuhan adalah The Great Observer. Upaya manusia untuk membayangkan Tuhan dalam wujud-wujud tertentu (termasuk keterikatan pada figur-figur tertentu) sering kali menghalang kita untuk betul-betul bertawakal diri kepada Allah nan Maha Meliputi.

Etika Ekologis: Mandat bagi Khalifah

Pesan penutup dari rangkaian ayat ini adalah tentang israf (berlebih-lebihan). “Makanlah buahnya ketika berbuah dan berikanlah hakmu pada hari panennya. Dan janganlah berlebihan.”

Ini adalah dasar teologis bagi etika lingkungan. Sebagai keturunan “Adam” nan diberi mandat sebagai khalifah, manusia mempunyai tanggungjawab menjaga keseimbangan ekosistem. Jika kita merusak bumi, kita sebenarnya sedang menentang kehendak Sang Pencipta nan telah mengatur segala sesuatu dengan presisi. Fenomena kerusakan alam hari ini, menurut Gus Ulil, adalah gambaran dari kegagalan manusia dalam memahami posisi dirinya di hadapan Tuhan dan alam.

Menuju Integrasi Iman dan Nalar

Diskusi mengenai apakah Adam adalah simbol Homo sapiens sebenarnya hanyalah pintu masuk untuk perdebatan nan lebih besar: gimana menjadi orang beragama di tengah bumi modern?

Gus Ulil, dengan latar belakang pesantrennya, tidak berupaya membuang warisan klasik. Sebaliknya, beliau justru menggunakan kekuatan turats (khazanah klasik) untuk membedah tantangan kontemporer.

Beliau mengajarkan bahwa menjadi Muslim nan alim tidak berfaedah kudu mematikan nalar. Sebaliknya, semakin dalam kita memahami tanda-tanda alam (sains), semestinya semakin dalam pula rasa syukur dan ketaatan kita kepada Tuhan.

Setiap jiwa memang menanggung bebannya sendiri. Tidak ada “beban warisan” dosa asal (seperti dalam beberapa doktrin lain). Setiap perseorangan bertanggung jawab atas pencariannya sendiri bakal kebenaran.

Jika kita sampai pada konklusi bahwa ada harmoni antara narasi Al-Qur’an dan perkembangan sains, itu adalah bagian dari “cahaya” nan diberikan Tuhan kepada mereka nan mau berpikir.

Catatan Akhir: Refleksi bagi Kita

Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali firman-Nya nan berbunyi:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًۭا وَعَدْلًۭا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَـٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ 

Artinya: “Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur`an) dengan betul dan adil. Tidak ada nan dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am [6]: 115).

Apapun konklusi kita mengenai Adam (baik sebagai sosok historis maupun simbol evolusi) prinsip dari narasi tersebut tetap sama: bahwa manusia adalah makhluk nan unik, nan ditiupkan ruh Ilahi, nan diberi kebebasan memilih (free will), dan nan pada akhirnya bakal kembali kepada Sang Pencipta.

Mari kita terus belajar, terus bertanya, dan terus merenung. Seperti halnya Ibrahim nan mencari Tuhan di tengah kerumunan kaumnya nan tersesat, kita pun kudu berani mencari kebenaran di tengah keriuhan info hari ini.

Janganlah menjadi “buta” dengan menutup diri dari realitas, dan janganlah pula menjadi “sombong” dengan menganggap logika kita sudah bisa menjangkau segalanya.

Kajian “Jawahirul Qur’an” bagian ke-26 ini adalah pengingat bagi kita semua untuk tetap rendah hati di hadapan misteri semesta, sembari terus menatap masa depan dengan ketaatan nan kokoh dan logika nan jernih.

Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita, sebagaimana Ia memberikan petunjuk kepada Ibrahim, agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang nan tersesat. Wallahu a’lam bishawab.

——-

*) Penulis adalah alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo dan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Sumber Info Seputar Islam bincangsyariah
Info Seputar Islam bincangsyariah