Cara Emosi Manusia yang Manakah Kamu quiz

Sedang Trending 2 tahun yang lalu

Pengalaman subjektif. Dalam banyak hal, emosi bukan perihal nan misterius. Saat terjadi sesuatu dalam kehidupan sehari-hari, wajar jika kita mengalami reaksi emosional di dalam diri masing-masing. Ini sangat masuk akal. Namun, pengalaman emosional setiap orang sifatnya subjektif dan kadang-kadang, tidak bisa diprediksi. Kita belum tentu menangis, tertawa, alias gemetar sebagai respons terhadap perihal nan sama. Dua orang nan memandang hujan saat bangun pagi, nan satu mungkin menjadi murung, tapi nan lain mungkin merasa tenang.

Respons fisiologis. Adakalanya, proses emosional nan kita alami tidak bisa diukur dan tidak jelas. Tubuh bentuk manusia bekerja dan mencatat emosi dengan jelas. Ketika Anda merasa takut, debar jantungmu menjadi lebih cepat. Ketika Anda naksir seseorang, biji matamu mengalami dilatasi. Selain respons fisiologis nan biasanya bisa diamati pada semua orang, ini juga mengungkapkan emosi nan kita rasakan.

Emosi dasar. Psikolog mengatakan ada 6 emosi dasar otomatis nan secara universal dikaitkan dengan ekspresi wajah nan bisa dikenali, yaitu: rasa gembira, sedih, terkejut, takut, jijik, dan marah. Fakta bahwa teori ini bertindak secara universal membawa implikasi emosi tersebut berkarakter evolusioner dan dalam beberapa kasus, membikin manusia bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya sebagai spesies.

Bagaimana prosesnya sehingga kita merasakan emosi? Hal ini tetap diperdebatkan oleh para psikolog. Secara umum, ada 5 teori emosi nan terkenal.

Teori James-Lange. Teori ini membikin asumsi bahwa reaksi fisiologis (jantung berdebar-debar, napas pendek-pendek) terjadi lebih dahulu. Kemudian, reaksi ini menstimulasi sistem saraf otonom sehingga terjadi apa nan kita interpretasikan secara mental sebagai emosi.

Teori Umpan Balik Wajah. Teori ini mengeklaim bahwa emosi sangat dipengaruhi oleh ekspresi wajah. Contohnya, wajah tersenyum bisa memicu rasa senang alias wajah cemberut bisa memicu rasa sedih.

Teori Cannon-Bard. Teori ini mengatakan bahwa reaksi fisiologis dan emosional terjadi secara bersamaan. Setelah stimulus eksternal terjadi, tubuh bentuk dan pusat kendali emosi menerima pesan nan independen dan simultan.

Teori Schachter-Singer. Teori ini membikin asumsi bahwa kita mengalami reaksi fisiologis terlebih dahulu. Kemudian, kita merespons reaksi tersebut dan melabelnya dengan salah satu emosi (“Oh, jantungku berdebar-debar. Aku pasti lagi ketakutan”).

Teori Penilaian Kognitif. Teori ini mengatakan bahwa berpikir selalu mendahului reaksi emosional alias fisiologis. Jadi, pertama-tama, Anda memikirkan apa nan sedang terjadi. Kemudian, Anda memutuskan emosi nan mau dirasakan sebagai reaksi emosional dan fisiologis nan mengikutinya.

Selengkapnya
Sumber wikihow
wikihow