Proses procurement nan baik adalah aspek kelancaran operasional bisnis. Namun, tidak jarang akibat procurement bisa saja terjadi.
Seperti keterlambatan pengiriman, lonjakan harga, alias ketidaksesuaian kualitas menjadi penghambat.
Agar perihal tersebut tidak mengganggu jalannya bisnis, berikut adalah 5 strategi anti kandas untuk mengelola akibat dalam procurement nan bisa Anda terapkan.
Baca Juga: Teknik Forecasting Budget dalam Procurement
5 Strategi Mengelola Risiko Procurement

Dalam proses procurement, akibat adalah tantangan nan tidak bisa dihindari, namun dapat diminimalkan dengan strategi nan tepat. Berikut adalah beberapa strategi nan bisa Anda lakukan.
1. Identifikasi Risiko
Langkah pertama untuk mengelola akibat dalam procurement adalah melakukan identifikasi akibat secara menyeluruh. Risiko dalam procurement dapat berupa:
- Keterlambatan pengiriman: Barang alias jasa nan tidak datang tepat waktu.
- Kenaikan harga: Perubahan pasar nan memengaruhi biaya pengadaan.
- Kualitas nan tidak sesuai: Barang nan tidak memenuhi spesifikasi kontrak.
- Ketidakstabilan vendor: Vendor nan ambruk alias tidak dapat memenuhi komitmen.
Gunakan pendekatan kajian akibat seperti SWOT alias brainstorming berbareng tim untuk mengidentifikasi kemungkinan akibat di setiap tahap procurement.
Dokumentasikan temuan ini untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan.
2. Jangan Hanya Mengandalkan Satu Vendor

Bayangkan jika satu-satunya vendor nan Anda gunakan tiba-tiba tidak bisa memenuhi pesanan, upaya Anda pasti terganggu.
Untuk menghindari itu Anda sebaiknya mencari beberapa vendor untuk setiap kebutuhan.
Pilih juga beberapa vendor dari letak berbeda jika memungkinkan, agar akibat musibah di satu wilayah tidak terlalu berpengaruh.
Lalu, jangan lupa untuk melakukan evaluas berkala untuk memastikan performa semua vendor bagus.
3. Buat Kontrak nan Jelas dan Menguntungkan Kedua Pihak
Kontrak nan baik adalah dasar untuk melindungi Anda dan vendor. Pastikan perjanjian mencakup perincian peralatan dan jasa sepert harga, spesfikasi, dan waktu pengiriman.
Lalu, kondisi darurat juga kudu dijelaskan. Misalnya jika terjadi musibah alias pandemi maka solusi apa nan bakal diambil.
Kemudian, pastikan juga di dalam perjanjian terdapat sanski jika ada keterlambatan. Gunakan asuransi untuk melindungi pengadaan terhadap kejadian nan tidak terduga, seperti kerusakan peralatan selama transportasi.
Baca Juga: 7 KPI Procurement nan Wajib Anda Perhatikan!
4. Gunakan Teknologi untuk Memantau Risiko

Teknologi bisa membantu Anda memantau proses procurement dengan lebih mudah dan akurat.
Sistem e-procurement seperti ProcurA misalnya memungkinkan Anda bisa memandang status pengadaan secara real-time.
Anda pun juga bisa menggunakan info dari pengadaan sebelumnya untuk memprediksi akibat nan mungkin muncul. Lalu, melacak performa vendor dan pengiriman menggunakan parameter seperti ketepatan waktu alias kualitas barang.
Teknologi blockchain dapat digunakan untuk meningkatkan keamanan dan memastikan keaslian info transaksi.
Baca Juga: 3 Jenis Kontrak Procurement, Wajib Anda Tahu!
5. Pantau dan Evaluasi Kinerja Vendor Secara Berkala
Monitoring adalah kunci untuk memastikan vendor tetap memenuhi ekspektasi selama periode kerja sama.
Anda dapat menggunakan Key Performance Indicators (KPI) seperti ketepatan waktu pengiriman, kualitas barang, alias kepatuhan pada anggaran.
Lalu, jadwalkan secara rutin untuk mengevaluasi keahlian vendor dan membahas tantangan nan mungkin mereka hadapi. Jika diperlukan, berikan support kepada vendor untuk mengatasi kendala, seperti memberikan training alias membangun komunikasi lebih baik.
Risiko dalam procurement adalah perihal nan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dikelola dengan strategi nan tepat. Mulai dari mengidentifikasi risiko, memastikan vendor berkualitas, membangun perjanjian nan jelas, hingga memanfaatkan teknologi, semua langkah ini bakal membantu Anda menjaga kelancaran proses procurement.
1 tahun yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·